Tampilkan postingan dengan label manfaat ginkgo biloba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manfaat ginkgo biloba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2012

Ginkgo Biloba Sebagai Obat Pikun

Lupa itu memang menjengkelkan. Sudah hampir ingat pada sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi otak tetap diblok, tidak ingat lagi. Kalau ini terjadi hanya kadang-kadang saja, orang masih belum panik. Tetapi kalau itu terjadi berkali-kali dalam waktu singkat, orang mulai prihatin.
Di Jerman, “penyakit lupa” dicegah dengan ekstrak daun Ginkgo Biloba yang khasiatnya sudah diteliti sejak tahun 1960. Ditemukan bahwa ekstrak daun Ginkgo Biloba membantu kelancaran peredaran darah perifer di daerah akral (anggota badan) yang jauh dari jantung, seperti ujung jari, ujung kaki, daun telinga. Kelancaran ini membuat orang segar kembali dan tidak lekas capek. Apakah dengan itu “penyakit” sering lupa juga bisa disembuhkan?
Beberapa peneliti obat di Jerman menyimpulkan, “Ya.” Tetapi rekan-rekannya di Amerika Serikat, “Tidak.” Walaupun begitu, para penganut di kubu Jerman yakin bahwa daerah otak juga terkena imbasnya, melihat kebugaran jasmani yang diperoleh membuat orang yang bersangkutan juga berpikiran jernih. Ingatan dan konsentrasi berpikir yang tadinya amburadul niscaya juga diperbaiki.
Ekstrak itu kemudian diakui oleh pemerintah Jerman sebagai obat pikun, dan disetujui untuk “dilempar” ke tengah masyarakat. Dicetak sebagai tablet dan dragee, ekstrak yang sudah dikeringkan itu dipasarkan dengan berbagai merek di pasar swalayan. Jutaan butir ditelan setiap hari oleh para manula Jerman yang dalam usia senjanya masih ingin tetap bugar dan tidak ingin sebentar-sebentar lupa, sebentar-sebentar lupa.
Uji coba yang sudah dilakukan di New York Institute for Medical Research menunjukkan, ekstrak Ginkgo Biloba murni dengan nomor pendaftaran obat EGb 761 buatan Jerman, memang benar berkhasiat terhadap pasien penyakit Alzheimer, tetapi kerjanya lamban sekali. Enam bulan sampai satu tahun baru tampak ada efeknya. Khasiatnya hanya tampak pada orang-orang tertentu.  Penelitian itu menimbulkan kontroversi. Mengapa meneliti obat pikun saja kok sampai meneliti khasiatnya terhadap penyakit Alzheimer? Penyakit ini lebih parah daripada penyakit cuma sering lupa.
Ternyata, alasannya karena penyakit Alzheimer sudah ada uji standarnya yang bisa dipakai untuk mengukur kesembuhan. Sedangkan “penyakit” sering lupa tidak ada. Pasien percobaan yang sudah diberi ekstrak Ginkgo Biloba selama 52 minggu, ternyata hanya 27% yang memperoleh kesembuhan sebanyak 4 point dalam skala pengukur penyakit Alzheimer. Yang diukur ialah memori, penalaran, dan tingkah laku menjaga diri. Padahal daun Ginkgo Biloba itu di Jerman tidak dimaksudkan untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer, melainkan mengembalikan kebugaran tubuh saja, termasuk otak, sehingga mencegah penurunan daya ingat.
Sementara penelitian masih dilanjutkan di Amerika, ekstrak Ginkgo Biloba dalam berbagai kepekatan, kemurnian (dicampur dengan tanaman lain, bahkan ada yang diberi protein, vitamin, dan mineral) sudah beredar luas di Eropa dan Amerika.
Hanya kekurangan oksigen
Hasil uji coba terhadap penyakit itu didiskusikan di kalangan American Medical Association, pada 21 Oktober 1997 yang lalu. Ketua tim peneliti, Pierre Le Bars, memberi penjelasan bahwa uji coba itu lebih banyak menimbulkan teka-teki daripada memberi penjelasan bagaimana duduknya perkara kok sampai daun itu bisa menghambat penurunan daya ingat pada pasien penyakit Alzheimer.
Penyakit ini sejenis dementia (gangguan kronis dalam proses mental) karena otak sedang sakit organis, seperti rusak dipondoki parasit misalnya, atau terganggu oleh tumor. Gejalanya selain sering lupa, juga disorientasi (tak tahu lagi di mana sedang berada, sehingga tak mampu menemukan jalan kembali), tak mampu bernalar, dan tak mampu menjaga (mengendalikan) diri.
Mekanisme kerja daun Ginkgo Biloba terhadap otak penderita Alzheimer belum jelas, walaupun sudah berhasil menghambat laju penyakit itu. Ada suatu zat yang niscaya berperan dalam hal ini, yang untuk sementara waktu diberi nama ginkgolid dan bilobalid (sejenis flavon glikosida). Tetapi apalah arti sebuah nama! Dua buah, malahan! Dalam uji coba di Jerman sebelumnya, yang dilakukan terhadap orang-orang yang sering lupa, diasumsikan bahwa penyebab gangguan itu bukan otak yang sedang rusak seperti pada penderita penyakit Alzheimer, tetapi cuma kekurangan oksigen. Otaknya tidak apa-apa.
Kekurangan ini gara-gara pembuluh darah ke otak sudah banyak yang menyempit karena dinding bagian dalamnya ditempeli endapan kapur dan kolesterol jahat. Kejadian ini terdapat pada orang-orang yang sudah lanjut usia, 60 tahun ke atas. Kekurangan oksigen di daerah otak karena peredaran darah agak terganggu ini menimbulkan kemunduran daya pikir, malas berpikir, atau telmi (telat mikir). Daya konsentrasi pikiran juga berkurang, dan akhirnya daya mengingat-ingat nama, istilah, tanggal, dan lainnya juga amburadul.
Memang kekurangan itu belum sampai menimbulkan rasa muter-muter, pingsan, atau stroke. Sebab, darah masih beredar memasok oksigen ke dalam otak, tetapi pasokannya yang kurang. Kalau dibiarkan berlarut-larut tanpa usaha menormalkan kembali pasokan oksigen seperti semula (misalnya dengan olahraga pernapasan secara teratur, jalan kaki pagi teratur juga, berenang ringan seminggu sekali, dan pantang merokok sama sekali), sering lupa itu makin parah. Seorang profesor yang menunjukkan gejala sering lupa dikatakan pikun. Bukan karena pandainya, tetapi karena tuanya. Keadaan ini berhasil dihambat dengan ekstrak Ginkgo Biloba.
Diduga, sari daun itu mampu mengencerkan darah, sehingga aliran yang semula lamban di daerah otak menjadi lancar. Istilah “mengencerkan darah” memang gambaran yang terlalu disederhanakan. Penjelasan yang lebih ilmiah ialah, sari daun itu menghambat pembentukan PAF (platelet activating factor). PAF sengaja dibentuk secara imunologis oleh sejumlah platelet (butir darah merah), agar darah lebih kental, untuk menghambat pendarahan pada dinding pembuluh darah yang luka, misalnya. Kekentalan ini menghambat peredaran. Apalagi kalau pembuluh darahnya sudah banyak yang menyempit karena “pengapuran”. Kalau pembentukan PAF dihambat oleh sari daun Ginkgo Biloba, darah tidak jadi mengental. Alirannya ke otak lancar kembali, dan otak tidak kekurangan oksigen lagi.

Pohon berdaun suplir Seperti apa pohon antipikun itu? Pohon Ginkgo Biloba batangnya bisa sampai ketinggian 24 m, dengan cabang yang sama kakunya dengan batang. Pucuk batangnya meruncing seperti lembing, dan semuanya ditutup oleh daun kecil-kecil yang melembutkan sosok pohon itu, tanpa menyembunyikan bentuk dasarnya. Daunnya seperti suplir postar, sampai orang Inggris menyebutnya Maidenhair tree.
Warnanya hijau kekuning-kuningan, dan bentuknya seperti kipas terbelah, dengan urat daun yang menyebar secara radial.
Menurut versi orang Cina, bentuk daun itu seperti kaki bebek, sampai para penulis mereka abad XVI menyebutnya pohon kaki bebek.
Nama gin go diciptakan oleh orang Jepang sebagai versi mereka dari nama Cina yin kuo (buah perak). Buahnya memang putih mengkilat seperti perak. Gara-gara buah inilah pohon itu diperkebunkan orang untuk dipanen bijinya. Biji yang sudah dibakar amat populer di Tiongkok kuno sebagai pengiring minum bir kalau orang mau kongkow-kongkow. Peranannya seperti kacang bawang dan biji mete zaman sekarang.
Dunia Barat baru mendengar tentang pohon itu ketika Engelbert Kaempfer menulisnya dalam laporan misi diplomatiknya ke Tokyo tahun 1690. Dokter perusahaan dagang Belanda yang ditempatkan di Jepang ini diakui sebagai penemu Ginkgo Biloba. Ia pula yang membawa tanaman itu untuk pertama kalinya ke Utrecht, Belanda, pada 1730, bersama bibit pohon magnolia dan ceri Jepang. Kew Gardens di Inggris membeli bibit Ginkgo Biloba pada 1754 dari seorang penangkar bibit di London. Di Kebun Raya Kew Gardens inilah, ia dibaptis sebagai adiantifolia (berdaun suplir Adiantum). Memang ia satu-satunya pohon di dunia yang daunnya seperti paku.
Gara-gara pohon itu, para taksonomis tumbuh-tumbuhan sepakat untuk menciptakan nama familias Ginkgoaceae. Satu-satunya familias di dunia yang anggotanya cuma satu, Ginkgo Biloba.
Hanya jantan yang menyenangkan
Pohon itu juga “sakti”. Jenis-jenis lain yang hidup sezaman dengan dia sudah punah pada akhir zaman Trias, era Mesozoicum (190 juta tahun yang lalu), tetapi ia tetap bertahan, hidup terus sampai zaman modern sekarang ini, sebagai semacam fosil hidup. Tidak jelas dalam sejarah, mengapa ia bisa bertahan begitu lama dari zaman ke zaman. Tetapi para ilmuwan tidak pernah kehabisan teori.
Diduga, bertahannya karena yang tumbuh di pegunungan tinggi jarang terserang hama (termasuk manusia) dan polusi udara. Merekalah yang kemudian menurunkan Ginkgo generasi muda pada zaman-zaman kemudian yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Di antara generasi baru ini malah ada yang tenang-tenang saja disiksa dalam pot pinggir jalan dalam kota yang tercemar berat oleh udara knalpot kendaraan macet (di Fifth Avenue, New York).
Sebelum jenis-jenis pohon runjung Conifera berkembang, pohon berdaun suplir sudah menguasai daratan Amerika, Asia, dan Australia. Ketika umat manusia muncul di pentas dunia, pohon itu “mengungsi” ke hutan-hutan Pegunungan Chekiang di sebelah timur, dan Sechuan di wilayah barat Cina. “Mengungsi” dalam hal ini ialah bertahan di daerah “pengungsian”, sedangkan rekan-rekannya di daerah lain sudah punah oleh berbagai sebab.
Untung ada pencinta lingkungan dan pelestari sumber daya alam yang menanamnya di taman-taman kuil di Cina, dan kemudian di Jepang. Ini menurut penuturan beberapa penulis Cina abad VIII. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan mewarisi jenis pohon ini di dataran rendah tempat pemukiman orang.
Selain sebagai tanaman obat, pohon antipikun ini juga ditanam sebagai penghias taman. Di daerah beriklim empat, saat yang paling cantik dari penampilan pohon itu ialah akhir musim gugur, ketika daunnya yang hijau berubah kuning mentega yang cemerlang. Keindahannya memang sebentar, karena daun itu segera gugur. Tetapi pertumbuhannya yang penuh, dan lebih leluasa bergoyang-goyang itu benar-benar mengesankan.
Di Amerika dikembangkan varietas yang tumbuh tegak, untuk ditanam sebagai penghias tepi jalan. Tetapi yang lebih indah sebenarnya varietas yang tumbuh melebar, atau yang daunnya menggelantung lebih luwes.
Pohon ini berumah dua. Bunga jantannya tinggal di rumah (pohon) lain, tidak serumah dengan bunga betina. Sayang, pohon betina ini berbau busuk, kalau buahnya sudah masak. Orang lebih suka menanam pohon jantan di halaman rumah, daripada memelihara pohon betina.

 Sumber : http://keluargacemara.com

Kamis, 17 Mei 2012

Madu Royal Ginkgo Biloba (A7)

GINKGO BILOBA adalah nama sejenis tanaman yang diperkirakan berasal dari zaman prasejarah. Tanaman ini tersebar luas disekitas daerah khatulistiwa sejak 250 juta tahun yang lalu, ketika Dinosaurus masih berkeliaran di bumi (belum punah). Ginkgo Biloba yang selamat melewati zaman es hanya tumbuh di Asia Timur (Jepang dan Cina).
Untuk pengobatan tradisional yang dipakai adalah daunnya, sedangkan buahnya mengandung racun. Manfaat dari daun Ginkgo Biloba telah diketahui sejak 2800 tahun sebelum masehi, dan dipergunakan untuk memperbaiki peredaran darah, khususnya gangguan peredaran darah di otak, daya ingat yang melemah dan kekacauan mental.
Dalam buku herbal Cina keberadaan Ginkgo Biloba sudah sejak 5000 tahun lalu, sedangkan di negara-negara barat penggunaan Ginkgo Biloba baru 20 tahun lalu. Di Jerman Ginkgo Biloba terdaftar sebagai pengobatan untuk fungsi otak misalnya : lemah daya ingat (mudah pusing), pusing, Tinnitus (telinga berdering), sakit kepala dan ketidakstabilan emosi (gelisah).
Khasiat :
  1. Meningkatkan daya ingat (melancarkan darah ke otak)
  2. Mengencerkan darah (menghalangi gangguan penggumpalan darah)
  3. Meredakan radang (anti inflamasi)
  4. Mencegah penyumbatan darah dalam otak
  5. Meremajakan dan regenerasi sel saraf otak
Kandungan Ekstrak Daun Ginkgo Biloba :
  1. Flavonoid Glycoside
    Diterpene (Ginkgo Glyde) berguna untuk meningkatkan peredaran darah ke bagian otak, membantu memulihkan jaringan organ tubuh dari kerusakan yang berkaitan dengan proses penuaan dan luka yang diakibatkan oleh radikal bebas. Bermanfaat sebagai anti oksidan yang kuat untuk melindungi tubuh dari serangan oksidatif oleh radikal bebas. Flavonoid melancarkan aliran darah ke otak.
  2. Terpenoid
    Bermanfaat meredakan radang (anti inflamasi). Mencegah penyumbatan saluran darah, Sesquerterpene (Bilobalede) membantu dalam kekurangan darah di otak dan peremajaan serta regenerasi sel saraf otak.
     
     

     

    MANFAAT GINKO BILOBA, SEBAGAI PENYEHAT JANTUNG DAN PARU 

    Ginkgo Biloba merupakan spesies tunggal dari suatu divisio tumbuhan berbiji terbuka yang dulu tersebar luas. Sekarang tumbuhan ini tumbuh terbatas di Asia Timur dan lokasi beriklim sedang lainnya.Nama ginkgo berasal dari bijinya yang berasal dari tanaman ginkgo betina. Biji ginkgo berwarna kuning hijau dan matang dalam bentuk buah berdaging yang berbau busuk dan berwarna jingga cokelat. Daun ginkgo terbagi atas dua lobus, namanya sering disebut dengan tambahan kata biloba.

    Dalam bahasa Cina, ginkgo biloba dikenal dengan sebutan yin xing. Dalam bahasa Inggris, ginkgo biloba juga dikenal dengan sebutan the maidenhair tree karena bentuk daunnya menyerupai daun suflir rambut Dewi Maiden atau maidenhair fern.

    Dilihat dari tata letak taksonomi, ginkgo biloba terhitung keluarga Ginkgoaceae. Sampai saat ini pusat penanaman ginkgo biloba terbesar di dunia terdapat di Provinsi Zhejiang, Cina Timur. Ginkgo biloba tergolong pohon yang sangat besar. Tingginya dapat mencapai 20-35 meter. Di Cina, pohon ginkgo biloba dapat mencapai 50 meter. Pohon ini termasuk tanaman berumur panjang. Bahkan, di Provinsi Shandong, Cina, ditemukan pohon ginkgo biloba yang telah berumur lebih dari 3.000 tahun. Sayangnya, pohon ini jarang ditemukan di Indonesia, tetapi justru banyak ditemukan di pasaran, suplemen yang berasal dari ekstrak gingko biloba. Sebagai bahan obat herbal, ginkgo sudah terkenal sejak dahulu kala. Masyarakat Cina kuno telah memanfaatkan daun dan buahnya sejak 5.000 tahun lalu, khususnya untuk mengobati penyakit jantung dan penyakit yang berkaitan dengan paru-paru, semisal asma ataupun bronkitis.
    Masyarakat China kuno juga menggunakannya sebagai minuman tonikum penyegar tubuh, setelah sarinya disaring.Tak hanya memanfaatkan ekstrak daun dan buahnya, penduduk Cina kuno juga memakan bijinya setelah disangrai. Rasanya gurih manis seperti biji mete goreng. Berdasarkan riset yang dilakukan, daun ginkgo biloba mengandung dua senyawa penting yaitu flavonoid and terpenoid. Senyawa flavonoid mempunyai sifat antioksidan, yang akan menetralkan radikal bebas yang dibentuk oleh tubuh. Radikal bebas adalah senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan berbagai jaringan tubuh serta berperan dalam timbulnya penyakit seperti kanker, penyakit jantung, Alzheimer, dan penurunan daya ingat (demensia). Sedangkan, terpenoid dapat meningkatkan aliran darah dengan cara memperlebar pembuluh darah dan mengurangi daya gumpal darah.Selain fungsi di atas, beberapa penelitian membuktikan bahwa ekstrak ginkgo biloba juga mempunyai kemampuan untuk meningkatkan konsentrasi dan daya ingat, serta berfungsi sebagai anti-vertigo yaitu sakit kepala yang menyebabkan penderitanya merasa berputar-putar.

    Efek Negatif

    Meski begitu, Ginkgo biloba ternyata mempunyai dampak negatif. Dosis ginkgo lebih dari 120 mg per hari dapat memberikan efek samping berupa mual dan pusing. Namun, ada sebagian orang yang tahan hingga dosis 200-240 mg. Disarankan agar konsumsi ginkgo dimulai dengan dosis rendah supaya terhindar dari efek samping. Juga dianjurkan menghubungi dokter bila mengalami keluhan akibat minum ginkgo. Ginkgo biloba disarankan tidak dikonsumsi dengan berbagai obat lain. Ginkgo biloba yang berinteraksi dengan aspirin (obat penghilang rasa sakit) dapat menimbulkan perdarahan dalam rongga anterior mata (hypema) secara spontan.Ekstrak ginkgo biloba bila berinteraksi dengan parasetamol dapat menimbulkan bilateral penimbunan darah di otak subdural (Haematoma).
    berbagai sumber/cr2/rin.


Harga (150 ml) :
Area 1 : Rp. 62.000
Area 2 : Rp. 66.500
Area 3 : Rp. 70.000

Area I Meliputi Wilayah :
Jawa, Bali, Lombok, dan Sumatera.
Area II Meliputi Wilayah :
Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.
Areal III Meliputi Wilayah :
Ambon, Papua, dan Timor Timur.